CERPEN
GURU DAERAH TERPENCIL MENUJU GURU IDOLA
Subuh yang dingin di hari senin, matahari belum tampak. Udara pagi pun makin terasa dinginnya sampai ke seluruh tubuhku. Ku lihat alam di sekitarku yang tampak masih diselimuti embun pagi. ku raih jaket dan tas, lalu kupakai sepatu yang biasa aku gunakan ketika hendak menuju tempat tugas. Seperti biasa berangkat dari rumah pukul 05.30 pagi karena jarak rumah dengan tempat tugas kurang lebih 20 Kilo, jadi perginya mesti di pagi buta.
Satu jam kulewati jalan yang penuh kubangan, berlumpur bin licin. Pukul 06.30 tiba di sekolah, tentu dengan dengan sepatu yang penuh lumpur, pakaian yang acak-acakan dan perasaan lelah dan capek, karena jarak tempuh yang lumayan jauh. Namun semua rasa lelah itu terbayarkan ketika para siswa hadir memberi ucapan salam, sambil mencium tanganku yang masih terasa dinginnya karena udara pagi.
Sambil menunggu teman guru lainnya hadir, aku duduk sambil memperbaiki jilbabku yang terbuka, sebagian siswa membersihkan sepatuku yang terkena lumpur.
Tiba-tiba Handphone yang ada dalam tasku berdering kuraih tas dan mengambil Hpku, ada teman guru menelepon memberitahukan bahwa harian Kendari Pos mengadakan Kompetisi Guruku Idolaku tahun 2018 dan dalam ucapannya mengatakan bahwa aku bisa ikut kompetisi itu, dalam hati mengatakan, apa iya aku bisa bersaing dengan guru-guru hebat lainnya terutama dalam wilayah kendari, sambil aku catat syarat pendaftaran yang dibacakan teman. Pada hari itu juga aku menyampaikan niatku kepada kepala sekolah dan teman guru dan mereka pun mendukung untuk ikut kegiatan tersebut.
Aku memasuki ruang kelas tujuh, kelas di mana aku harus mengajar di jam pertama, seperti hari-hari lainnya siswa memberi ucapan selamat pagi tentu dengan berbahasa inggris karena aku guru bahasa inggris, dan pelajaranpun aku mulai sampai diakhir dengan memberikan home work pada anak-anakku. Namun yang ada dalam pikiranku adalah, apa iya aku guru dari daerah terpencil mampu untuk berkompetisi? Selalu dan selalu itu yang ada dalam pikiranku, dalam benak “ Ahh,,,apapun dan bagaimanapun kompetisinya jalani dengan penuh semangat, kerja keras, dan terutama percaya diri, inshallah pasti bisa” Pikirku.
Sepulang dari tempat tugas, yang aku lakukan browsing tentang bagaimana menjadi guru idola dan belajar banyak dari internet. dan setelah itu ku buat surat rekomendasi yang harus ditanda tangani kepala sekolah sebagai salah satu syarat pendaftaran Guruku Idolaku, kulengkapi syarat-syarat lainnya dengan penuh semangat namun tak dapat aku pungkiri jika rasa takut dan was-was selalu ada dalam hatiku.
Keesokan harinya ku berikan rekomendasi pada kepala sekolahku yang kebetulan waktu itu sedang berada di kota kendari jadi sekalian setelah di tanda tangan, aku membawa dokumen pendaftaranku ke Graha Pena tentu dengan penuh semangat 45. Di sana aku banyak bertanya tentang kegiatan apa saja yang nanti akan dilaksanakan oleh finalis guruku idolaku. namun dari panitia tidak banyak memberikan jawaban karena masih menunggu dari keputusan rapat panitia. Pihak panitia hanya menyampaikan bahwa untuk kelanjutannya peserta dapat melihat melalui koran Kendari Pos..
Hampir tiga pekan menunggu, saking lama menunggu dalam hatiku mengatakan, “barangkali aku tidak lolos masuk finalis guruku idolaku”, aku mulai melupakan kompetisi itu karena tidak ada kabar dari panitia, tapi ternyata akulah yang kurang bertanya dan tidak membaca harian kendari pos dan hingga akhirnya aku memberanikan diri menghubungi pihak panitia, dan panitia pun mengatakan bahwa nama dan foto finalis sudah terpampang manis di harian Kendari Pos, saat itu pula aku menghubungi tante yang kebetulan berlangganan koran Kendari Pos, tanteku balik menghubungiku karena nama dan fotoku ada dalam harian Kendari Pos sebagai salah satu finalis Guruku Idolaku tingkat SMP yang waktu itu terdiri dari 10 finalis tingkat SD, 14 finalis tingkat SMP, dan 15 finalis tingkat SMA/SMK.
Saat itu aku langsung ke rumah tante yang letaknya di THR untuk melihat langsung koran yang telah memuat foto dan nama peserta, ada perasaan haru melihat foto, dan namaku ada dalam koran, bangga karena nama sekolah dan asal kabupaten ada pula dalam harian kendari pos, namun rasa takut tak pernah hilang dari perasaan ini, apa lagi saat melihat semua peserta yang ada dalam koran, semuanya hampir berasal dari kota kendari dan hanya ada beberapa peserta saja yang berasal dari kabupaten yaitu kab. Konawe selatan, Kab. Kolaka Timur, kab. Kolaka, dan aku yang berasal dari kab. Konawe Utara.
Dan yang membuat aku turun semangat, ketika aku membaca kolom bawah dari koran Kendari Pos, di situ telah ada agenda kegiatan yang akan dilaksanakan peserta selama proses kompetisi mulai dari persiapan karya tulis ilmiah, video pembelajaran sampai pada vote bagi peserta, dan waktu pelaksanaan yang awalnya akan dilaksanakan pada tanggal 3 Desember 2019, harus mundur lebih awal dari tanggal 28 – 30 November 2018, artinya persiapan yang harus aku lakukan hanya lima hari saja sejak hari dimana aku tahu lolos sebagai finalis guruku idolaku.
Aku bingung, apa yang harus aku siapkan untuk waktu yang sangat singkat ini, pikiranku berkecamuk antara karya tulis ilmiah dan makalah yang harus aku presentasekan nanti, dalam pikirku aku tidak mungkin sanggup menyelesaikan karya tulis ilmiah dalam waktu 4 hari, sementara di waktu yang bersamaan ada 2 tugas dan tanggung jawab yang harus aku selesaikan sebelum pemeriksaan BPK yaitu menyelesaikan laporan pertanggungjawaban Dana BOS, dan menyelesaikan penginputan data peserta Ujian Nasional pada DAPODIK, maklum di sekolah terpencil tempat tugasku SDM yang menguasai IT masih terbilang sedikit, jadi semua tugas aku yang harus handel semua.
Dan tibalah saatnya aku harus memilih, dan makalahlah pilihanku karena aku tahu aku hanya sanggup menyelesaikan makalah, maka aku mengangkat tema tentang Literasi yaitu “faktor-faktor yang mempengaruhi keterampilan membaca siswa & upaya yang dilakukan dalam meningkatkan keterampilann membaca siswa pada sekolah menengah pertama (SMP) di kabupaten konawe utara”. Banyak alasan aku memilih tema ini, dan salah satunya karena masih kurangnya sosialisasi tentang bagaimana meningkatkan minat baca siswa melalui gerakan literasi sekolah yang selalu di gaungkan pemerintah saat ini.
Pada hari berikutnya, yang harus aku lakukan adalah membuat video pembelajaran, seperti biasa kesekolah di pagi buta, aku menghampiri beberapa siswaku yang hari itu hadir lebih awal, aku sampaikan kegiatan pembelajaran yang akan aku lakukan hari ini “disamping kita belajar seperti biasa, bu guru juga akan mengambil gambar dan video pembelajaran kita hari ini” kataku pada beberapa siswa, pada jam 07.30 mereka siap belajar, dan aku meminta bantuan pada siswa kelas 9 (Juharni) untuk membantuku memvideokan proses pembelajaranku.
Dan yang lebih mengharukan bin membahagian adalah sistem voting oleh peserta, tak pernah terbayangkan akan diberikan dukungan melalui vote, bak seorang penyanyi yang berlaga di Dangdut Akademi, tentu dengan kemasan yang beda.
Sejak itu yang aku lakukan adalah sosialisasi keteman-teman guru, keluarga, dan teman-teman media sosial melalui grup whatsapp dan facebook. Aku perhatikan setiap saat berapa poling vote yang sudah diberikan untuk saya. Naik turun polingnya, namun tak apalah, aku berpikir masih ada beberapa penilaian lain yang akan membantuku bisa masuk menuju juara. Tak berharap banyak dalam kompetisi ini, yang terpenting adalah mengikuti kegiatan kompetisi ini sampai selesai akan menjadi pengalaman berharga bagi saya untuk lebih berkarya kedepannya.
Melalui grup whatsapp Guruku Idolaku 2018, aku mengetahui agenda demi agenda yang nantinya akan aku laksanakan. Dan saat itu aku sudah siap untuk mengikuti kompetisi meski dengan segala kekurangan yang aku miliki. Pada tanggal 29 November 2018, aku beranikan diri menuju Graha Pena Kendari untuk melakukan presentasi, dan bertemu peserta lain dari berbagai kabupaten/kota. Aku duduk menikmati suguhan materi menarik dari beberapa peserta dengan beberapa komentar dari juri yang diberikan kepada setiap peserta mulai dari komentar yang menyenangkan hati sampai dengan komentar yang bikin down para peserta.
Dan tiba saatnya, aku harus tampil dengan penuh percaya diri dan sedikit grogi, tapi Alhamndulillah semuanya berjalan lancar dan selesai tepat waktu, tentu dengan komentar yang menyenangkan.
Pada hari berikutnya, kegiatan kami tour wisata bersama semua peserta, dan panitia memilih 2 lokasi yang hendak kami kunjungi; Mesjid Al Alam Kendari, dan Kebun Raya Kendari, sangat menyenangkan, keakraban makin terjalin sesama peserta.
Dan tibalah saat yang dinantikan oleh semua peserta yaitu malam Grand Final Guruku Idolaku se- Sulawesi Tenggara tepatnya pada tanggal 1 Desember 2018, kuajak suami dan anak-anakku untuk turut menyaksikan malam grand final itu, perasaan deg-degan bercampur bahagia terbawa saat berada di Aula Hotel Plaza Iin Kendari yang begitu megah penataannya.
“Tak mungkinlah aku bisa juara, banyak saingan dari guru-guru hebat, sedang aku guru dari daerah terpecil, ikut kompetisi ini saja sudah cukup untuk menambah wawasan dan pengalaman saya” kataku dalam hati.
Selang beberapa saat setelah sambutan dari bapak Rektor Universitas Halu Oleo dan Direktur Harian Kendari Pos, seluruh finalis guruku idolaku dipersilahkan berjalan diatas panggung, dengan penuh percaya diri kulambaikan tanganku kepada seluruh hadirin yang hadir ketika namaku, sekolahku dan kabupatenku dibacakan oleh MC, ibarat seorang purti Indonesia yang berjalan diatas catwall, “ aduuh senangnya” kataku dalam hati.
Saatnya pembacaan finalis yang masuk 6 besar oleh Master of Ceremony, deg-degan rasanya,,,”Finalis pertama yang masuk 6 besar dia adalah Aswati, S.Pd.,M.Pd. SMPN Satu Atap 6 Motui asal Kab. Konawe Utara” Kata MC. “Ya Allah benarkah ini?” kataku. Seperti mimpi masuk dalam 6 besar guruku idolaku se Sulawesi Tenggara, sesekali kulihat kearah tempat duduk suami dan anak-anakku, kebahagiaan terpancar di raut wajah mereka. Alhamndulillah Ya Allah, hanya kata ini yang selalu aku ucapkan dalam hati berkali-kali.
Namun perasaan was-was itu kembali, bukan hanya diriku tapi seluruh finalis 6 besar karena harus menjawab pertanyaan yang diberikan juri tanpa tahu sebelumnya kira-kira pertanyaan apa gerangan. Tibalah giliranku, dengan ucapan bismillah aku mengambil 1 kertas yang ada dalam toples kemudian memberikan kepada MC, ternyata pertanyaan nomor 9 dengan pertanyaan “kegiatan apa saja yang anda sudah dilakukan disekolah dalam meningkatkan mutu sekolah?” oleh Ketua IWAPI Sultra. tanpa berfikir panjang kulahap pertanyaan itu dengan jawaban yang yang menurutku pas dengan pertanyaan. Dan Alhamndulillh semua finalis dapat menjawab pertanyaan dengan baik dan lancar.
Plong rasanya, setelah tahap demi tahap sudah kami lalui, saatnya menunggu pembacaan juara 1 sampai juara harapan 3, semua rasa yang tadinya berkecamuk dalam hati, tiba-tiba hilang, hanya perasaan bahagia yang aku rasakan saat itu, apalagi di saat MC kembali membacakan hasil grand final guruku idolaku yang di mulai dari pembacaan juara harapan 3.
“Selamat kepada SMPN 13 Kendari sebagai Juara harapan 3, dan selanjutnya selamat kepada SMPN Satu Atap 6 Motui Konawe Utara sebagai harapan 2” Alhamndulillah Ya Allah, senangku bukan main waktu itu ingin serasa melompat dari panggung saking tidak percaya dengan keputusan panitia memberikan saya juara harapan 2. Dan selanjutnya MC membacakan sampai juara 1.
Terpancar senyum kebahagiaan diantara kami semua setelah bapak Direktur Utama Harian Kendari Pos menyerahkan hadiah kepada kami berupa Piagam Penghargaan dan Uang Tunai.
Tak ada yang tidak mungkin di dunia ini, selama kita berusaha dan berdoa kepada Sang Pencipta kita, Inshallah hal yang tidak kita pikirkan baik sekalipun akan menjadi kenyataan. Terima kasih kepada rekan-rekan guru se Kab. Konawe Utara terkhusus guru SMPN Satu Atap 6 Motui, keluargaku yang sudah berikan vote dan dukungannya kepada saya, Inshallah kedepannya akan lebih berkarya, berkarya dan terus berkarya.
Profil Penulis
Aswati, S.Pd.,M.Pd,. Guru Bahasa Inggris pada SMPN Satu Atap 6 Motui Kab. Konawe Utara, selain tugas pokok sebagai guru, penulis juga sebagai Operator Dapodik Sekolah dan Bendahara BOS. Penulis mendapat gelar Sarjana Pendidikan dari Universitas Halu Oleo Jurusan Bahasa dan Sastra melalui program
Beasiswa Asia Development Bank (ADB) pada tahun 2007. Gelar Magister Pendidikan diperoleh dari Universitas Halu Oleo Jurusan Administrasi Pendidikan.
Wanita yang lahir di Toreo pada tanggal 15 Mei 1981 ini mulai tertarik dalam bidang menulis sejak duduk di bangku kuliah, selain itu bidang tarik suara dan olahraga bola voly menjadi hobinya.
Semoga tulisan ini dapat bermanfaat dan menginspirasi rekan-rekan guru lainnya, terkhusus mereka yang bertugas di wilayah terpencil.
Penulis dapat dihubungi melalui whatsapp: 082395022281 atau email: asthyaswathy@yahoo.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar